Rabu, 16 Agustus 2017 WIB

Usul, Penyuluh Lapangan Sistem Resi Gudang (SRG) Diberi Insentif

Di sejumlah daerah perkembangan Sistem Resi Gudang (SRG) terbilang seret. Peran penyuluh lapangan sebagai ujung tombak pemasaran Resi Gudang perlu diberi insentif agar SRG makin masif berkembang.

Oleh : ibrahim aji | Jumat, 01 April 2016 | 15:42 WIB


(Foto: Ajie/Komoditi.co) Suliati, penyuluh pertanian sekaligus Mantri Statistik: hapal luar kelapa data produksi komoditas pertanian di daerahnya.

JAKARTA, KOMODITI.CO - Sistem Resi Gudang, atau sebut saja singkatannya: SRG, tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan koordinasi antarpemangku kepentingan, yakni dinas atau instansi terkait agar bisa tertata laksana dengan baik.

Demikian pandangan seorang petugas penyuluh pertanian di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Dialah Suliati, penyandang titel Sarjana Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (S. PKP), cocok dengan tugasnya sebagai penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tebas. Sehari-hari Suliati juga bertugas sebagai Mantri Tani bidang Statistik Pertanian di daerahnya.

Menurut Suliati, koordinasi antarinstansi sudah berjalan baik di daerahnya. Yakni Dinas Perdagangan yang membawahi SRG itu bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Penyuluhan Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan (BKP4K) Kabupaten Sambas. Koordinasi tersebut untuk menggerakkan tenaga penyuluh agar turut menyosialisasikan SRG di sela-sela tugas rutin seperti menyuluh tentang tata cara budi daya, mencegah hama tanaman, dan seterusnya.

"Berbicara mengenai Resi Gudang ini bukan hanya dari Dinas Perdagangan. Di daerah kami ada Dinas Pertanian dan juga Badan Ketahanan Pangan dan BP3K. Ditambah lagi dengan seluruh elemen yang ada, semakin banyak yang bicara Sistem Resi Gudang. Saya yakin kalau itu kita laksanakan, jangankan baru 150 ton, mungkin dua gudang SRG bisa terisi," tandas Suliati ditemui Komoditi.co di sela pelatihan Bimbingan Teknis Penyuluh Lapangan Sistem Resi Gudang (SRG) yang digelar oleh Bappebti Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (31/3).

Sebagai Mantri Statistik, Suliati hapal luar kepala data produksi komoditas pertanian di lingkungannya. Berkat bantuan pemerintah melalui berbagai program, produksi pertanian di Kecamatan Tebas terutama gabah rerata mencapai 4,5 ton hingga 5,5 ton gabah per hektar. Sedangkan yang diusahakan secara swadaya oleh petani produksinya masih rendah, yaitu hanya 3,5 ton per hektar. "Adapun jumlah areal tanam di daerah kami mencapai 6.750 hektar," beber Suliati.

Petani di Kabupaten Sambas, umumnya menikmati masa panen padi sebanyak lima kali dalam dua tahun atau rata-rata masa menanam masing-masing 4,8 bulan. Di sana ada lebih 300 kelompok tani dan 21 gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Sistem Resi Gudang di Sambas baru dibangun tahun 2014, sehingga belum banyak berkembang. "Sebab, boleh jadi koperasi pengelola gudang belum bekerja sama maksimal dengan pihak terkait, teruma dengan kami para penyuluh di lapangan. Namun berkat terobosan Bappebti mengajak bekerjasama dengan para penyuluh kami yakin program yang baik ini bisa tersosialisasi di masyarakat khususnya di kelompok tani," kata Suliati optimistis.

Suliati menuturkan permasalahan di daerahnya terkait penerapan Resi Gudang. Menurutnya, kepemilikan lahan di tingkat keluarga petani sangat minimalis, yaitu hanya 0,32 hingga 0,48 hektar per kepala keluarga. Walhasil, produksi beras kebanyakan hanya untuk keperluan makan keluarga sehari-hari. "Sedangkan mereka yang bisa menyimpan di gudang itu biasanya kepemilikan sawahnya minimal satu hektar per kepala keluarga petani," terangnya.

Biar pun begitu, penyuluh bidang Sumber Daya di BP3K Kecamatan Tebas ini tidak kekurangan akal menyiasati kendala sempitnya kepemilikan lahan petani. "Kita akan menyiasati dengan meningkatkan peran gapoktan (gabungan kelompok tani), yaitu dengan mengumpulkan hasil panen petani melalui ketua gapoktan, baru kemudian dikumpulkan di gudang. Itulah solusi kami nanti," cetusnya dengan seulas senyum manis.

Insentif bagi penyuluh
Agar SRG makin berkembang, dan makin banyak petani yang mengakses pinjaman perbankan dengan menjaminkan Resi Gudang, Suliati punya usul menarik. Yaitu, adanya semacam insentif bagi petugas penyuluh pertanian yang berhasil membawa petani meresigudangkan komoditas hasil panennya.

Suliati bilang, insentif tersebut untuk menambah semangat para petugas penyuluh lapangan meskipun jumlahnya tidak besar. Misalnya, kata dia, dihitung dari tonase komoditas yang disimpan atau dijaminkan di gudang. "Insentifnya dari koperasi sebagai pengelola gudang itu tidak dinikmati sendiri oleh si penyuluh, tapi, misalnya, dibagi bersama antara penyuluh dan pengurus gapoktan. Jadi adalah dana untuk pemacu kinerja," kata dia menjelaskan.

Saat initu sebagian besar petani maupun kelompok tani masih belum tahu apa manfaat resi gudang, bagaimana hitung-hitungan profitnya jika mereka menyimpan komoditasnya di gudang SRG. "Termasuk kami sendiri baru mengikuti bimbingan teknis yang dilaksanakan Bappebti ini. Tapi kalau betul-betul sudah disosialisasikan dan ada insentif buat penyuluh saya sangat yakin perkembangannya akan sangat pesat, khususnya di Kecamatan Tebas ini," ujarnya kembali meyakinkan.

Di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas saat ini hanya ada satu gudang berkapasitas 150 ton dengan fasilitas mesin pengering yang lokasinya berdekatan dengan kantor BP3K.

Suliati sudah mendapat gambaran di benaknya bahwa gabah yang disimpan petani di gudang merupakan sisa dari stok gabah yang disimpan petani di rumah. Artinya, begitu petani itu panen, maka sebanyak 10% gabah akan disimpan di rumah untuk cadangan pangan mereka selama enam bulan. Sisanya, yang 90% baru disimpan di gudang atau diresigudangkan sebagai sarana tunda jual hingga harga membaik. Dari situ petani mendapat keuntungan, dan membayar pinjaman bank.

Hanya saja, Suliati mengaku masih mencari solusi di mana pasar bagi komoditi gabah yang diresigudangkan itu.

Ia pun bertutur, dirinya pernah menyarankan kepada anggota DPRD Kabupaten Sambas, agar pemda setempat membuat badan usaha tingkat desa (Bumdes) dengan memanfaatkan dana desa yang cukup besar. Dana tersebut ia usulkan sebagiannya disisihkan untuk membeli gabah petani bekerjasama dengan SRG. "Dari situ gabah dijadikan beras dan dikemas menjadi produk khas Tebas," kata Suliati berbinar.

Suliati makin yakin usulannya itu masuk akal. Apalagi pemerintah tengah menggiatkan program Upaya Khusus peningkatan produksi tiga komoditas utama: Padi, Jagung dan Kedelai. Lewat program yang dikenal dengan program Upsus Pajale ini, pemerintah Presiden Jokowi sangat bertekad untuk mensukseskan kedaulatan pangan, bahkan melibatkan TNI sehingga ditargetkan terwujud pada tahun 2017.

"Kalau kita sungguh-sungguh saya sangat yakin itu bisa terwujud. Dengan adanya Bumdes itu yang nanti memproduksi beras khas Kabupaten Tebas. Tapi itu tidak bisa bergerak sendiri harus didukung seluruh pemangku kepentingan SRG ini," ujarnya menandaskan.

 

 


#Sistem resi gudang #Penyuluh pertanian #Kecamatan Tebas #Kabupaten Sambas #Penyuluh srg

Komentar


Serbaneka - 3 hari yang lalu

Hingga 2019, Pemerintah Bangun 4 Juta Unit Rumah Murah

Sejak digulirkan program sejuta rumah murah pada 2015 hingga 2016 telah terealisasi 1,5 juta unit rumah. Sedangkan pada 2017- Agustus 2017 telah terealisasi 449.000 unit rumah.
3 hari yang lalu

Hingga 2019, Pemerintah Bangun 4 Juta Unit Rumah Murah

Sejak digulirkan program sejuta rumah murah pada 2015 hingga 2016 telah terealisasi 1,5 juta unit rumah. Sedangkan pada 2017- Agustus 2017 telah terealisasi 449.000 unit rumah.
Pertanian - 1 minggu yang lalu

Asyik... Salak Sleman Siap Diekspor ke Selandia Baru

Renovasi tersebut sebagai upaya peningkatan kualitas pengemasan yang memenuhi standar ekspor ke Selandia Baru. Targetnya akhir Agustus packing house selesai direnovasi.
Komoditi - 1 minggu yang lalu

Pada 2018, Lampung Bangun Kawasan Industri Maritim

KIM Tanggamus termasuk 20 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tercantum di Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Kementan Ingatkan Janji Kalimantan Barat Untuk Ekspor Beras dan Jagung

Kementan akan berupaya dengan berbagai strategi agar ekspor segera terwujud dengan membangun sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Indonesia-WFP Perkuat Ketahanan Pangan

Dubes Esti Andayani mengharapkan kerja sama dengan WFP semakin solid dan berdampak riil bagi ketahanan pangan dan peningkatan nutrisi anak-anak di Indonesia.
Serbaneka - 2 minggu yang lalu

Bank Swasta Biayai LRT Jabodebek

Pendanaan proyek diraih dari kredit perbankan dan investasi PT KAI (Persero) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
Komoditi - 3 minggu yang lalu

Pemerintah Tolak Keputusan Norwegia yang akan Stop Biofuel Indonesia

Menurut Airlangga, keputusan Norwegia yang disampaikan Solbaken masih dikaji dan belum diimplementasikan oleh pemerintah Norwegia.
Pertanian - 1 bulan yang lalu

Gagang Cengkih "Limbah" Untuk Ekspor

Gagang cengkih yang selama ini banyak dibuang oleh petani karena dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi untuk diekspor ke mancanegara
Pertanian - 1 bulan yang lalu

Kotamobagu Genjot Produksi Kopi Organik

Produk pertanian organik lebih sehat dan harganya lebih tinggi ketimbang nonorganik. Bank Indonesia pun mendukung pengembangan pertanian organik ini.
Lihat Semua

Close
Memuat Perkiraan Cuaca ..





Close
Close