Selasa, 17 Oktober 2017 WIB

Usul, Penyuluh Lapangan Sistem Resi Gudang (SRG) Diberi Insentif

Di sejumlah daerah perkembangan Sistem Resi Gudang (SRG) terbilang seret. Peran penyuluh lapangan sebagai ujung tombak pemasaran Resi Gudang perlu diberi insentif agar SRG makin masif berkembang.

Oleh : ibrahim aji | Jumat, 01 April 2016 | 15:42 WIB


(Foto: Ajie/Komoditi.co) Suliati, penyuluh pertanian sekaligus Mantri Statistik: hapal luar kelapa data produksi komoditas pertanian di daerahnya.

JAKARTA, KOMODITI.CO - Sistem Resi Gudang, atau sebut saja singkatannya: SRG, tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan koordinasi antarpemangku kepentingan, yakni dinas atau instansi terkait agar bisa tertata laksana dengan baik.

Demikian pandangan seorang petugas penyuluh pertanian di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Dialah Suliati, penyandang titel Sarjana Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (S. PKP), cocok dengan tugasnya sebagai penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tebas. Sehari-hari Suliati juga bertugas sebagai Mantri Tani bidang Statistik Pertanian di daerahnya.

Menurut Suliati, koordinasi antarinstansi sudah berjalan baik di daerahnya. Yakni Dinas Perdagangan yang membawahi SRG itu bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Penyuluhan Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan (BKP4K) Kabupaten Sambas. Koordinasi tersebut untuk menggerakkan tenaga penyuluh agar turut menyosialisasikan SRG di sela-sela tugas rutin seperti menyuluh tentang tata cara budi daya, mencegah hama tanaman, dan seterusnya.

"Berbicara mengenai Resi Gudang ini bukan hanya dari Dinas Perdagangan. Di daerah kami ada Dinas Pertanian dan juga Badan Ketahanan Pangan dan BP3K. Ditambah lagi dengan seluruh elemen yang ada, semakin banyak yang bicara Sistem Resi Gudang. Saya yakin kalau itu kita laksanakan, jangankan baru 150 ton, mungkin dua gudang SRG bisa terisi," tandas Suliati ditemui Komoditi.co di sela pelatihan Bimbingan Teknis Penyuluh Lapangan Sistem Resi Gudang (SRG) yang digelar oleh Bappebti Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (31/3).

Sebagai Mantri Statistik, Suliati hapal luar kepala data produksi komoditas pertanian di lingkungannya. Berkat bantuan pemerintah melalui berbagai program, produksi pertanian di Kecamatan Tebas terutama gabah rerata mencapai 4,5 ton hingga 5,5 ton gabah per hektar. Sedangkan yang diusahakan secara swadaya oleh petani produksinya masih rendah, yaitu hanya 3,5 ton per hektar. "Adapun jumlah areal tanam di daerah kami mencapai 6.750 hektar," beber Suliati.

Petani di Kabupaten Sambas, umumnya menikmati masa panen padi sebanyak lima kali dalam dua tahun atau rata-rata masa menanam masing-masing 4,8 bulan. Di sana ada lebih 300 kelompok tani dan 21 gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Sistem Resi Gudang di Sambas baru dibangun tahun 2014, sehingga belum banyak berkembang. "Sebab, boleh jadi koperasi pengelola gudang belum bekerja sama maksimal dengan pihak terkait, teruma dengan kami para penyuluh di lapangan. Namun berkat terobosan Bappebti mengajak bekerjasama dengan para penyuluh kami yakin program yang baik ini bisa tersosialisasi di masyarakat khususnya di kelompok tani," kata Suliati optimistis.

Suliati menuturkan permasalahan di daerahnya terkait penerapan Resi Gudang. Menurutnya, kepemilikan lahan di tingkat keluarga petani sangat minimalis, yaitu hanya 0,32 hingga 0,48 hektar per kepala keluarga. Walhasil, produksi beras kebanyakan hanya untuk keperluan makan keluarga sehari-hari. "Sedangkan mereka yang bisa menyimpan di gudang itu biasanya kepemilikan sawahnya minimal satu hektar per kepala keluarga petani," terangnya.

Biar pun begitu, penyuluh bidang Sumber Daya di BP3K Kecamatan Tebas ini tidak kekurangan akal menyiasati kendala sempitnya kepemilikan lahan petani. "Kita akan menyiasati dengan meningkatkan peran gapoktan (gabungan kelompok tani), yaitu dengan mengumpulkan hasil panen petani melalui ketua gapoktan, baru kemudian dikumpulkan di gudang. Itulah solusi kami nanti," cetusnya dengan seulas senyum manis.

Insentif bagi penyuluh
Agar SRG makin berkembang, dan makin banyak petani yang mengakses pinjaman perbankan dengan menjaminkan Resi Gudang, Suliati punya usul menarik. Yaitu, adanya semacam insentif bagi petugas penyuluh pertanian yang berhasil membawa petani meresigudangkan komoditas hasil panennya.

Suliati bilang, insentif tersebut untuk menambah semangat para petugas penyuluh lapangan meskipun jumlahnya tidak besar. Misalnya, kata dia, dihitung dari tonase komoditas yang disimpan atau dijaminkan di gudang. "Insentifnya dari koperasi sebagai pengelola gudang itu tidak dinikmati sendiri oleh si penyuluh, tapi, misalnya, dibagi bersama antara penyuluh dan pengurus gapoktan. Jadi adalah dana untuk pemacu kinerja," kata dia menjelaskan.

Saat initu sebagian besar petani maupun kelompok tani masih belum tahu apa manfaat resi gudang, bagaimana hitung-hitungan profitnya jika mereka menyimpan komoditasnya di gudang SRG. "Termasuk kami sendiri baru mengikuti bimbingan teknis yang dilaksanakan Bappebti ini. Tapi kalau betul-betul sudah disosialisasikan dan ada insentif buat penyuluh saya sangat yakin perkembangannya akan sangat pesat, khususnya di Kecamatan Tebas ini," ujarnya kembali meyakinkan.

Di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas saat ini hanya ada satu gudang berkapasitas 150 ton dengan fasilitas mesin pengering yang lokasinya berdekatan dengan kantor BP3K.

Suliati sudah mendapat gambaran di benaknya bahwa gabah yang disimpan petani di gudang merupakan sisa dari stok gabah yang disimpan petani di rumah. Artinya, begitu petani itu panen, maka sebanyak 10% gabah akan disimpan di rumah untuk cadangan pangan mereka selama enam bulan. Sisanya, yang 90% baru disimpan di gudang atau diresigudangkan sebagai sarana tunda jual hingga harga membaik. Dari situ petani mendapat keuntungan, dan membayar pinjaman bank.

Hanya saja, Suliati mengaku masih mencari solusi di mana pasar bagi komoditi gabah yang diresigudangkan itu.

Ia pun bertutur, dirinya pernah menyarankan kepada anggota DPRD Kabupaten Sambas, agar pemda setempat membuat badan usaha tingkat desa (Bumdes) dengan memanfaatkan dana desa yang cukup besar. Dana tersebut ia usulkan sebagiannya disisihkan untuk membeli gabah petani bekerjasama dengan SRG. "Dari situ gabah dijadikan beras dan dikemas menjadi produk khas Tebas," kata Suliati berbinar.

Suliati makin yakin usulannya itu masuk akal. Apalagi pemerintah tengah menggiatkan program Upaya Khusus peningkatan produksi tiga komoditas utama: Padi, Jagung dan Kedelai. Lewat program yang dikenal dengan program Upsus Pajale ini, pemerintah Presiden Jokowi sangat bertekad untuk mensukseskan kedaulatan pangan, bahkan melibatkan TNI sehingga ditargetkan terwujud pada tahun 2017.

"Kalau kita sungguh-sungguh saya sangat yakin itu bisa terwujud. Dengan adanya Bumdes itu yang nanti memproduksi beras khas Kabupaten Tebas. Tapi itu tidak bisa bergerak sendiri harus didukung seluruh pemangku kepentingan SRG ini," ujarnya menandaskan.

 

 


#Sistem resi gudang #Penyuluh pertanian #Kecamatan Tebas #Kabupaten Sambas #Penyuluh srg

Komentar


Komoditi - 5 hari yang lalu

Harga Emas di Pasar Berjangka Turun

Harga emas dunia untuk pengiriman Desember 2017 di Commodity Exchange, Rabu pagi (11/10) WIB, turun tipis ke 1.292,90 dolar AS per ons troi.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Jalur Kereta Bandara NYIA akan Dibangun

Hal ini dikarenakan pembangunan NYIA tahap pertama seluas 120 ribu meter persegi akan diselesaikan di 2019. Pemerintah mengharapkan pada saat itu juga jalur kereta api bandara sudah selesai dibuat, yakni dari Stasiun Kedundang menuju area terminal bandara.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Wisatawan China No. 1 di Bali

Wisatawan China kini menjadi turis terbanyak yang berkunjung ke Bali. Selama 7 bulan mulai Januari-Agustus 2017 sebanak 1,04 juta wisatawan China datang ke Pulau Dewata
Pertanian - 1 minggu yang lalu

Harga Grosir Naik, Tapi Eceran Gula dan Beras Tetap Stabil

AMBON, KOMODITI.CO- Harga gula dan beras tingkat grosir untuk pasar Ambon mengalami kenaikan sejk September lalu. Gula misalnya naik..
1 minggu yang lalu

Bangka Tengah Diproyeksikan jadi Sentra Perikanan Budi Daya

Menurut Ibnu Saleh, pemerintah tetap berkomitmen memajukan sektor perikanan dan masyarakatnya untuk minta lebih mandiri serta selalu berkreasi. Pemerintah daerah terus mendorong masyarakat daerah untuk lebih fokus mengembangkan usaha itu dengan menaburkan berbagai jenis bibit ikan di dalam tambak yang mereka bangun.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Presiden: Era Aktivitas Ekonomi Digantikan Era Gaya Hidup

Presiden mengatakan disamping era digital, kita juga memasuki yang namanya lifestyle era, era gaya hidup. Ini banyak yang nggak sadar sudah banyak bergerak ke sana.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Mendukung Program Satu Juta Rumah, BUMN Sediakan 30 Persen Hunian MBR

Khusus di TOD Stasiun Pondok Cina, Depok, yang dibangun atas kerja sama Perum Perumnas dan KAI itu, sebanyak 1.020 unit dari total 3.440 hunian yang terdiri atas empat tower itu akan dialokasikan untuk MBR.
Komoditi - 2 minggu yang lalu

Industri Kopi Yogya agar Bersiap Beroperasinya Bandara NYIA

Niken Probo Laras, Kepala Dinas Perdagangan Kulon, di Kulon Progo, Minggu (1/10), mengharapkan pelaku industri kopi mengantisipasi adanya pembangunan bandara itu. Karena merupakan peluang pasar bagi para pengrajin olahan kopi.
Serbaneka - 2 minggu yang lalu

Di Bantul, Luas Lahan Tebu Berkurang

Menurut Kepala Dinas ini, Pulung Haryadi, memang terjadi penurunan luasan tebu dari tahun ke tahun. Dari yang tadinya seluas 1.700 hektare, namun dalam kurun waktu lima tahun ini tinggal seluas 1.095 hektare.
Serbaneka - 2 minggu yang lalu

Saham-saham Wall Street Meningkat

NEW YOK, KOMODITI.CO- Saham-saham di Wall Street berhasil membukukan kenaikan pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi 28/9 WIB)...
Lihat Semua

Close
Memuat Perkiraan Cuaca ..





Close
Close