Rabu, 16 Agustus 2017 WIB

Sri Mulyani: Fenomena Global Kontemporer Tantangan Pelik Pertumbuhan

Oleh : Sayadi San | Jumat, 02 September 2016 | 07:26 WIB


blog.talenta.co Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA, KOMODITI.CO- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan fenomena global kontemporer merupakan salah satu tantangan pelik bagi pemenuhan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam rapat kerja mengenai asumsi makro RAPBN 2017 dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/9) malam, Sri Mulyani mengatakan fenomena global mempengaruhi penerimaan negara, terutama dari pajak penghasilan (PPh). "Setiap komponen dari asumsi makro mempengaruhi setiap komponen penerimaan negara," kata dia.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa pertumbuhan global sekarang ini, meskipun telah positif di kisaran 2,9 persen sampai 3,1 persen, tidak ditandai dengan perdagangan internasional yang pulih.

"Pertumbuhan sama sekali tidak diikuti oleh pertumbuhan perdagangan internasional, ekspor impor masih mengalami pertumbuhan negatif. Inilah yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan apakah telah terjadi perubahan industrialisasi di dunia, sehingga mempengaruhi ekspor impor antarnegara," ujari Sri Mulyani.

Satu dekade lalu perekonomian dunia menikmati manfaat dari fenomena rantai nilai global (global value chain) yang mampu memberikan stimulus ekspor dan impor antarnegara. Fenomena tersebut menunjukkan kondisi dimana satu perusahaan, misalnya telepon seluler, yang komponen-komponennya berasal dari berbagai negara sehingga mampu menimbulkan lalu lintas impor dan ekspor yang hanya dipicu oleh satu komoditas.

Sekarang, efek dari fenomena rantai nilai global diperkirakan sudah mencapai kejenuhan dan kemungkinan manfaat yang sama dapat kembali dipicu apabila muncul revolusi industri baru, seperti misalnya teknologi robotik atau kecerdasan buatan (artificial intelligence). "Selama teknologi masih lama, dunia akan stagnan dengan ekspor impor yang tidak berkembang," kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir menyadari bahwa fenomena global telah menyebabkan ekspor tidak berkembang, sehingga sektor itu belum bisa diandalkan sebagai penerimaan negara.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut berpendapat Indonesia perlu memanfaatkan potensi pasar dalam negeri yang besar agar dinamika pertumbuhan ekonomi tidak terlalu terpengaruh sentimen dari fenomena global terkini. "India dan Tiongkok telah mempu mengelola pasar internal tanpa terpengaruh luar. Kita tidak sadar kalau kita punya pasar besar, kenapa tidak memanfaatkan aspek tersebut untuk menambah pendapatan negara," ucap dia.

Pada kesempatan yang sama, Sri Mulyani menyampaikan penurunan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2017 sebesar 0,1 persen dari semula 5,3 persen menjadi 5,2 persen. (Ant)  


#Menteri keuangan #Sri mulyani #Pertumbuhan ekonomi #Ekonomi global #Rapbn #Komisi xi dpr

Komentar


Serbaneka - 3 hari yang lalu

Hingga 2019, Pemerintah Bangun 4 Juta Unit Rumah Murah

Sejak digulirkan program sejuta rumah murah pada 2015 hingga 2016 telah terealisasi 1,5 juta unit rumah. Sedangkan pada 2017- Agustus 2017 telah terealisasi 449.000 unit rumah.
3 hari yang lalu

Hingga 2019, Pemerintah Bangun 4 Juta Unit Rumah Murah

Sejak digulirkan program sejuta rumah murah pada 2015 hingga 2016 telah terealisasi 1,5 juta unit rumah. Sedangkan pada 2017- Agustus 2017 telah terealisasi 449.000 unit rumah.
Pertanian - 1 minggu yang lalu

Asyik... Salak Sleman Siap Diekspor ke Selandia Baru

Renovasi tersebut sebagai upaya peningkatan kualitas pengemasan yang memenuhi standar ekspor ke Selandia Baru. Targetnya akhir Agustus packing house selesai direnovasi.
Komoditi - 1 minggu yang lalu

Pada 2018, Lampung Bangun Kawasan Industri Maritim

KIM Tanggamus termasuk 20 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tercantum di Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN.
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Kementan Ingatkan Janji Kalimantan Barat Untuk Ekspor Beras dan Jagung

Kementan akan berupaya dengan berbagai strategi agar ekspor segera terwujud dengan membangun sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Indonesia-WFP Perkuat Ketahanan Pangan

Dubes Esti Andayani mengharapkan kerja sama dengan WFP semakin solid dan berdampak riil bagi ketahanan pangan dan peningkatan nutrisi anak-anak di Indonesia.
Serbaneka - 2 minggu yang lalu

Bank Swasta Biayai LRT Jabodebek

Pendanaan proyek diraih dari kredit perbankan dan investasi PT KAI (Persero) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
Komoditi - 3 minggu yang lalu

Pemerintah Tolak Keputusan Norwegia yang akan Stop Biofuel Indonesia

Menurut Airlangga, keputusan Norwegia yang disampaikan Solbaken masih dikaji dan belum diimplementasikan oleh pemerintah Norwegia.
Pertanian - 1 bulan yang lalu

Gagang Cengkih "Limbah" Untuk Ekspor

Gagang cengkih yang selama ini banyak dibuang oleh petani karena dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi untuk diekspor ke mancanegara
Pertanian - 1 bulan yang lalu

Kotamobagu Genjot Produksi Kopi Organik

Produk pertanian organik lebih sehat dan harganya lebih tinggi ketimbang nonorganik. Bank Indonesia pun mendukung pengembangan pertanian organik ini.
Lihat Semua

Close
Memuat Perkiraan Cuaca ..





Close
Close