Rabu, 28 Juni 2017 WIB

Sri Mulyani: Fenomena Global Kontemporer Tantangan Pelik Pertumbuhan

Oleh : Sayadi San | Jumat, 02 September 2016 | 07:26 WIB


blog.talenta.co Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA, KOMODITI.CO- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan fenomena global kontemporer merupakan salah satu tantangan pelik bagi pemenuhan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam rapat kerja mengenai asumsi makro RAPBN 2017 dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/9) malam, Sri Mulyani mengatakan fenomena global mempengaruhi penerimaan negara, terutama dari pajak penghasilan (PPh). "Setiap komponen dari asumsi makro mempengaruhi setiap komponen penerimaan negara," kata dia.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa pertumbuhan global sekarang ini, meskipun telah positif di kisaran 2,9 persen sampai 3,1 persen, tidak ditandai dengan perdagangan internasional yang pulih.

"Pertumbuhan sama sekali tidak diikuti oleh pertumbuhan perdagangan internasional, ekspor impor masih mengalami pertumbuhan negatif. Inilah yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan apakah telah terjadi perubahan industrialisasi di dunia, sehingga mempengaruhi ekspor impor antarnegara," ujari Sri Mulyani.

Satu dekade lalu perekonomian dunia menikmati manfaat dari fenomena rantai nilai global (global value chain) yang mampu memberikan stimulus ekspor dan impor antarnegara. Fenomena tersebut menunjukkan kondisi dimana satu perusahaan, misalnya telepon seluler, yang komponen-komponennya berasal dari berbagai negara sehingga mampu menimbulkan lalu lintas impor dan ekspor yang hanya dipicu oleh satu komoditas.

Sekarang, efek dari fenomena rantai nilai global diperkirakan sudah mencapai kejenuhan dan kemungkinan manfaat yang sama dapat kembali dipicu apabila muncul revolusi industri baru, seperti misalnya teknologi robotik atau kecerdasan buatan (artificial intelligence). "Selama teknologi masih lama, dunia akan stagnan dengan ekspor impor yang tidak berkembang," kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir menyadari bahwa fenomena global telah menyebabkan ekspor tidak berkembang, sehingga sektor itu belum bisa diandalkan sebagai penerimaan negara.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut berpendapat Indonesia perlu memanfaatkan potensi pasar dalam negeri yang besar agar dinamika pertumbuhan ekonomi tidak terlalu terpengaruh sentimen dari fenomena global terkini. "India dan Tiongkok telah mempu mengelola pasar internal tanpa terpengaruh luar. Kita tidak sadar kalau kita punya pasar besar, kenapa tidak memanfaatkan aspek tersebut untuk menambah pendapatan negara," ucap dia.

Pada kesempatan yang sama, Sri Mulyani menyampaikan penurunan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2017 sebesar 0,1 persen dari semula 5,3 persen menjadi 5,2 persen. (Ant)  


#Menteri keuangan #Sri mulyani #Pertumbuhan ekonomi #Ekonomi global #Rapbn #Komisi xi dpr

Komentar


Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Antisipasi Kebutuhan Lebaran BRI Siapkan Rp23 Triliun

BRI juga ingin menghemat likuiditas agar dapat menggenjot penyaluran kredit yang ditargetkan tumbuh 12-14 persen (year on year/yoy).
Serbaneka - 1 minggu yang lalu

Target Jakarta Fair Rp6,5 Triliun

Menurut Prajna, nilai transaksi terbesar dalam Jakarta Fair diraih penjualan automobil dan sepeda motor serta aksesorisnya. Disusul produk-produk handphone dan produk elektronik lainnya.
Serbaneka - 4 minggu yang lalu

Kemendag: Satgas Pangan agar Antisipasi Penimbunan

Menurutnya, ada ketentuan Permendag bahwa pelaku usaha distribusi kebutuhan pokok diwajibkan untuk mendaftar dan setiap tanggal 15 harus melaporkan stoknya berapa dan mendaftarkan gudangnya.
Serbaneka - 1 bulan yang lalu

Selama Mudik Lebaran 4,95 Juta Orang Siap Diangkut dengan Kapal

Untuk roda dua diperkirakan naik 6,5 persen menjadi 443.666 unit sepeda motor dari realisasi 2016 sebanyak 416.954 unit.
Komoditi - 1 bulan yang lalu

Bulog Sumut: Stok Gula untuk Ramadhan Aman

Ketersediaan gula di pasar juga masih banyak, sehingga diyakini tidak ada masalah untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri 2017.
Serbaneka - 1 bulan yang lalu

Jelang Ramadhan, Mendag Pantau Harga Bahan Pokok Wilayah Jakarta

Kebutuhan bawang putih dalam negeri, kurang lebih mencapai 435.000 ton per tahun.
Serbaneka - 1 bulan yang lalu

Di Alun-alun Wonosari Digelar Gunung Kidul Expo 2017

Menurut Hidayat, UKM yang mengikuti kegiatan ini ada 175 yang berasal dari 18 kecamatan di Gunung Kidul. Adapun produknya pangan, batik, hingga produksi mebel. Event ini berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya memasang produk dari dinas.
Komoditi - 1 bulan yang lalu

Harga Emas Terdongkrak Konflik di Korea

Menurut Bachrul, faktor lain yang akan mempengaruhi harga emas ke depan adalah membaiknya ekonomi di China dan di Uni Eropa.
Komoditi - 1 bulan yang lalu

Bappebti Gandeng PPATK Cegah Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

Ketua Bappebti Bachrul Chairi ā€ˇmengungkapkan perjanjian kerja sama ini merupakan tindak lanjut MoU Bappebti dengan PPATK tahun 2008.
Serbaneka - 1 bulan yang lalu

Gubernur Sumbar Resmikan Festival Kampoeng Minangkabau 2017

Irwan antara lain menyampaikan sambutannya dalam bentuk pantun, seni sastra yang memang tumbuhkembang di ranah Minang itu. Ia juga berkeliling stan-stan yang ada di lokasi.
Lihat Semua

Close
Memuat Perkiraan Cuaca ..

Lihat Semua




Close
Close