HNSI Sumut Minta Solusi Atasi Pengangguran Nelayan Pukat

Oleh : moch ryan
Senin, 06 Nopember 2017 | 11:55 WIB


MEDAN, KOMODITI.CO-  Larangan pemerintah untuk menggunakan alat tangkap ikan Pukat Hela (Trawl) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Sumatera Utara berdampak pada menganggurnya tibuan nelayan di Sumatera Utara.    "HNSI Sumut meminta Menteri Kelautan dan Perikanan melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumut dapat mencarikan solusi untuk  pengganti alat tangkap tersebut,"  kata Wakil Ketua HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia)  Sumut, Nazli, Senin (6/11).

Nazli menjelaskan pelarangan alat tangkap tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 karena dianggap tidak ramah lingkungan dan juga merusak sumber hayati yang terdapat di dasar laut.  "Selain itu, alat tangkap tersebut selama ini meresahkan nelayan tradisional dan juga sering terjadi konflik saat menangkap ikan di laut," ujar Nazli.

Ditambahkan bahwa nelayan  yang menganggur adalah mereka yang selama ini menggunakan alat  tangkap yang dilarang oleh pemerintah tersebut. Para nelayan tersebut menangkap ikan di laut dengan menggunakan kapal berukuran besar diatas 30 gross ton (GT).  "Para nelayan tersebut selama ini dibiayai oleh pengusaha/pemodal besar, dalam menangkap ikan di laut," katanya.

Nazli mengatakan HNSI Sumut tetap mendukung peraturan yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melarang penggunaan alat tangkap Pukat Hela dan Pukat Tarik.  Kedua alat tangkap yang merusak lingkungan di dasar laut itu, banyak beroperasi di daerah Tanjung Balai/Asahan, Labuhan Batu, Batubara, Serdang Bedagai, Deliserdang, Langkat, Tapanuli Tengah,  dan  perairan Belawan. Berdasarkan data HNSI Sumut jumlah nelayan di Sumatera Utara saat ini diperkirakan sekitar 395 ribu orang. (sumber:antara)


#Hnsi #Kapal pukat #Sumatera utara #Menteri kelautan

Terkini